Pages

Subscribe:

Senin, 28 November 2011

Ampunan Tuhan Tidak Ada Batasnya (religi) #1

Kisah religi untuk renungan dan motivasi
Al-Qur'an adalah sumber kekuatan umat Islam, pokok dari semua kekuatan dan kekuasaan, seperti yang dinyatakan oleh Allah dengan indahnya melalui salah satu firmanNya dalam surat Al-Hasyr ayat 21:

"Dan Andaikata kami turunkan Al-Qur'an ini di atas gunung, sungguh kau akan lihat gunung itu ketakutan dan gemetar, dari kecutnya kepada Allah."
Dalam sebuah haditsnya Nabi Muhammad SAW menyampaikan pernyataan tentang betapa pentingnya memegangi Al-Qur'an sebagai pedoman hidup:
"Sesungguhnya Al-Qur'an ini sebagian ujungnya di tangan Allah, dan ujung yang lain di tanganmu semua. Maka berpeganganlah kalian kepadanya."
Dengan kekuatan Al-Qur'an, sebesar apapun dosa manusia akan sirna, bagaikan lenyapnya embun ditimpa matahari cerah. Sehingga kemuliaan Nabi, bahkan kebijaksanaan dan kerahimannya, tunduk pasrah di bawah keagungan Allah SWT. yang di dalam Al-Qur'an  dengan gaung kasih sayangnNya yang berkumandang abadi menegaskan melalui surat Al-Baqarah ayat 222:
"Sungguh Allah mencintai para durjana yang tobat, dan Allah mencintai orang-orang yang bersih."
Ada sebuah riwayat yang dijumpai pada jaman Rasulullah SAW. yang menceritakan tentang agungnya ampunan Allah terhadap dosa seorang anak muda yang demikian kejinya sehingga Nabi Muhammad SAW. sangat murka mendengarnya.

Pada suatu ketika Umar bin Al-Khaththab datang kepada Nabi SAW. sambil menangis tersedu-sedu. Nabi heran dan bertanya, "Apa yang menyebabkan engkau menangis, sahabatku?"
Umar menjawab, "Di pintu rumah saya ada seorang anak muda yang sedang menangis keras. Begitu sedih tangisannya sehingga hati saya terbakar karenanya."
"Coba hadapkan ia kepadaku."

Maka Umar pulang dan membawa anak muda itu menghadap Nabi SAW. Anak muda itu masih tetap menangis dengan sangat sedihnya.
Nabi bertanya, "Anak muda, masa depanmu masih panjang. Apa sebabnya engkau menangis seperti itu?"
Sambil tertunduk pemuda itu berkata, "Tangis saya adalah tangisan dosa. Begitu besar dosa saya kepada Tuhan, dan saya takut akan murkaNya serta murka utusanNya."
Nabi terdiam, "Apakah engkau menyekutukan Tuhan dengan sesuatu yang lain?" tanyanya kemudian.
"Tidak."
"Apakah engkau membunuh seseorang tanpa hak?"
Pemuda itu menggeleng.
"Kalau demikian Allah akan mengampuni dosamu meskipun besarnya memenuhi tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi." jawab Nabi memberikan harapan.
Pemuda itu tercenung dan berkata, "Dosa saya lebih besar dari tujuh lapis langit dan gunung-gungung yang tinggi."
"Dosamukah yang lebih besar atau qursi Allah yang suci yang lebih besar?" tanya Nabi.
"Dosa saya lebih besar," jawab pemuda itu pasti.
Apakah dosamu juga lebih besar dari 'arsy Allah?"
"Saya yakin dosa saya jauh lebih besar," sahutnya dengan tersedu-sedu.
"Apakah dosamu lebih besar juga dari Allah dan kasih sayangNya?"
Pemuda itu berpikir sebentar, lantar berkata, "Tentu saja Allah yang lebih besar beserta kasih sayangNya."
"Kalau begitu ceritakanlah dosamu itu," desak Nabi.
"Saya malu kepadamu, wahai Rasulullah," jawab si pemuda makin terisak.
"Kenapa mesti malu kepadaku?" Jangan punya perasaan demikian. Ceritakan saja."

Maka pelan-pelan pemuda itu mengangkat muka dan berkata, "Wahai, kekasih Allah. Sejak umur tujuh tahun pekerjaan saya adalah membongkar kuburan orang-orang yang baru meninggal dan mencuri kain kafannya. Pada suatu hari ada seorang gadis anak salah seorang sahabat Ansor meninggal. Begitu selesai dikuburkan dan di pemakaman sudah sepi, saya bongkar kuburannya, lalu saya lepas kain kafannya. Anak itu adalah seorang gadis yang sangat cantik dan tampaknya betul-betul masih perawan. Saya .....
*bersambung....*

(dikutip dari: 30 Kisah Teladan 1 - KH. Abdurrahman Arroisi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar